Berkeliling di Beberapa Kota, di Priangan Timur

416fig1.gif

Akhir-akhir ini, saya cukup intens melakukan perjalanan jarak jauh, kisaran perjalanan dengan jarak lebih dari 50 KM. Perjalanan-perjalanan tersebut, bagi saya dimaknai sebagai “bermain sambil belajar, belajar sambil bermain”. Atau bahkan sebenarnya, sebagian dan keseluruhan aktivitas tubuh, mungkin saya maknai seperti itu, kiranya.

Banyak hal menarik yang saya tonton dari perjalanan-perjalanan ini. Dengan mengendarai sepeda motor, semua sudut dan hal-ihwal yang nampak di sekitaran jalan raya, tampak begitu terangnya. Adalah “perubahan ruang”, yang merupakan hal yang saya lihat sepanjang perjalanan ini. Jalan semakin melebar, kendaraan pribadi semakin banyak, hingga perumahan bergaya baru semakin menyeruak. Semua itu adalah perubahan, dan saya pikir ia memanglah sebuah keniscayaan itu sendiri.

Melihat perubahan-perubahan ini, membuat selama perjalanan, saya sering kali berpikir tiada henti: apa yang hendak orang-orang ini lakukan dengan perubahan? Orientasi apa yang sedang dipandang orang-orang ini terhadap masa depannya dengan adanya perubahan? Atau sederhananya; apa yang sedang orang-orang lakukan terhadap waktu?

Tepat dalam kondisi ini, pun saya sering membayangkan bahwa jika menarik spektrum dalam cakupannya yang lebih luas dan tak terhingga –dalam artian, pemahaman atas “Waktu” sebenarnya tidak berkorelasi dengan ada atau tak adanya subyek-, maka adalah sebuah kengerian tersendiri kalau sesungguhnya perubahan dalam artian “terus menjadi” yang ada pada perjalanan waktu, adalah sesuatu yang kacau, atau bahkan gila.

Bagaimana tidak, waktu yang terus berubah, terus dan terus, “seolah-olah” ia sudah ditaklukkan oleh kesadaran manusia, yang dengannya “waktu” seolah tidak otonom pada dirinya. Yang terjadi justru sebaliknya: bahwa semenjak awal, manusia itu sendiri sudah kalah oleh potensialitas kemenjadian dari Waktu. Melampaui persoalan “otonom”, justru pada diri “waktu”, ada silang-semrawut garis-garis kontingensi: yang membuat perubahan-perubahan menjadi mungkin, sepanjang ia berada dalam waktu.

Inilah mengapa, perubahan-perubahan yang saya lihat di sekitar, saya pandang sebagai sebuah keniscayaan, yang bahkan sering tak terduga aneh dan gilanya: sama seperti memandang foto-foto indah di tempat-tempat wisata, yang dalam lingkungan sebenarnya, tempat tersebut tidaklah indah-indah amat -yang dalam hal ini, “Perubahan” diinstrumentasikan via simulasi teknologi, sekalipun “Waktu” tetap menjadi ontologi dari keberadaan potensialitas perubahan-. Inilah yang dalam pemahaman saya, bahwa waktu dan kita, sama-sama saling memperlakukan sebagai yang gila. []

Puncak Pemikiran

ap_120605132196-e1447262514170

Beberapa waktu yang lalu (1/4/2016), saya diajak oleh kawan-kawan Fraksi Nahdliyyin Kiri di Semarang (hahaha) untuk menginisiasi acara Sekolah Kader Front Nahdliyyin Untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam. Acara berkisar pada Fokus Diskusi Grup hingga terjun ke lapangan dalam rangka riset kecil-kecilan terkait konflik lahan yang melibatkan masyarakat akar rumput warga Nahdliyyin.

Kebetulan sekali, diantara sekian rangkaian acara Fokus Diskusi Grup, ada Muhammad Al-Fayyadl –doi nulis buku “Derrida” dan “Teologi Negatif”, kemarin habis menyelesaikan pendidikan Master bidang Filsafat Kontemporer dan Kritik Kebudayaan di Université de Paris VIII (Vincennes-Saint-Denis)- yang didapuk sebagai pembicara. Kala itu ia berbicara mengenai pengelolaan sumber daya alam dalam perspektif islam (juga soal perdebatannya di kalangan ulama), kaidah-kaidah Fiqh (hukum islam), hingga berbicara mengenai kepesantrenan.

Diantara sekian obrolannya dengan kawan-kawan dan juga saya –yang obrolannya itu masih banyak dipengaruhi cara berpikir dekonstruksi ala Derridean-, ada perbincangan menarik namun sederhana yang kiranya saya pikir banyak luput di benak banyak orang. Perbicangan itu adalah mengenai “Puncak Pemikiran”.

Pada perbicangan mengenai “Puncak Pemikiran” itu, Al-Fayyadl menyebutkan setidaknya bahwa menulis skripsi, tesis, atau disertasi, atau bahkan riset post-doctoral belum tentu bisa disebut sebagai puncak pemikiran. Bahkan menyedihkannya banyak dari para sarjana-sarjana kita setelah menulis skripsi, tesis, dan disertasi itu, malah tidak menulis lagi –yang disertai oleh berbagai alasan-alasan mengapa tidak menulis lagi-.

Justru yang menarik adalah, bahwa “Puncak Pemikiran” seseorang terkadang muncul di tempat yang tidak terduga. Ia bisa muncul dalam tulisan blog, opini koran, tulisan jurnal, atau buku yang diterbitkan sendiri.

Saya sendiri memandang, bahwa seseorang bisa dikatakan mendapatkan “Puncak Pemikiran” bilamana ia secara pribadi memiliki ke-khas-an teoritik dalam pemikirannya (dalam lain kata, ke-khas-annya tersebut orisinil), dan ia bergelut secara khusus dan mendalam secara spesifik pada perspektif teorinya. Dan ke-khas-an teoritiknya tersebut, diakui oleh masyarakat secara luas bahwa itu memang inheren dan khas pada diri si pemikir.

Ini bisa dilihat dari contoh seperti Prof. Satjipto Rahardjo. Bagi peminat studi hukum seperti saya, nama Prof. Satjipto Rahardjo sudah tidak asing dengan perspektifnya yang bernama “Hukum Progresif”. Dan sebagai hyper-theory, “Hukum progresif” ini bisa dikatakan sebagai perspektif yang mengundang berbagai perdebatan diantara ahli hukum. Yang menariknya adalah, bahwa asal muasal kehadiran “Hukum Progresif” sebagai sebuah perspektif yang khas dari diri Prof. Tjip adalah bahwa ia justru hadir dari tulisan-tulisan opini stensilan yang ditulis oleh Prof. Tjip di Koran Kompas.

Sekalipun Prof. Tjip sebelum-sebelumnya sudah menulis banyak tulisan makalah, jurnal, hingga buku, justru term “Hukum Progresif” sebagai sebuah perspektif yang khas ini hadir dalam opini-opini Kompas-nya. Inilah yang kemudian bisa kita duga, bahwa memang benar barangkali kata Al-Fayyadl jika “Puncak Pemikiran” bisa hadir di tempat yang tidak terduga.

Adalah kesedihan tersendiri bilamana melihat banyak dari sarjana-sarjana, master-master, doktor-doktor, hingga profesor-profesor kita kebanyakan yang snob itu sudah bangga dengan titlenya namun kebanyakan dari mereka justru minim akan ke-khas-an pemikirannya. Alih-alih khas, seringkali banyak dari perspektif yang ditawarkannya kemudian absurd karena memang perspektifnya biasa-biasa saja, tidak ada yang khas. Atau barangkali mereka hingga saat ini sedang berproses menuju kesana? Ntahlah. []

Nonton Vidiu Musik Lewat Yutup

Dalam beberapa waktu terakhir ini,

Saya lebih sering mendengarkan lagu-lagu electronica-rock dengan sedikit psychedelic, seperti miliknya Tame Impala, Animal Collective, hingga Thenewno2. Namun diantara sekian grup musik yang disebut barusan, mungkin Thenewno2-lah yang lebih sering saya dengar.

Ada beberapa pertimbangan mengapa Thenewno2 masih saya dengar hingga detik ini: pertama karena eksplorasi lirik lagu-lagu mereka yang cukup dalam, kedua karena eksplorasi sound electronic-neo psychedelicia yang cukup apik, dan ketiga mungkin karena sosok kefiguran-suara khas dari punggawa grup musik tersebut: Dhani Harrison.

Sekalipun dari segi ‘produktivitas’ musik-nya Thenewno2 bisa dibilang masih sedikit -dari tahun 2006 hingga tahun 2016, Thenewno2 hanya baru menelurkan dua full album musik dan dua mini-album-, namun setidaknya bagian-bagian dari musik mereka bisa dibilang cukup kaya. Pada album pertama mereka yang berjudul “You are Here”, nuansa psychedelic rock Thenewno2 lebih didominasi oleh ampli-ampli ala indie rockdan di album kedua mereka yang berjudul “thefearofmissingout”, sound psychedelic rock mereka didominasi oleh nuansa electronica yang kental.

Mereka juga bikin album soundtrack lagu untuk film Beautiful Creaturesyang akan tetapi saya tidak mendengar lagu-lagu mereka di album tersebut -karena terkadang, ketika saya mendengarkan lagu-lagu soundtrack film, itu terasa membosankan-.

Ya intinya, akhir-akhir ini saya sedang menikmati mereka: Thenewno2. Oh iya, kadang saya juga melipir dengerin & nonton vidiu konser kolaborasi Dhani Harrison ama musisi-musisi lainnya. []

Musik, Seni, dan Sekitar

I-Boogie_David_Morris_ink__charcoal_d-morris.com.6

Oleh: M. Rasyid Ridha Saragih
(editor @komunitaspayung)

Di era digital ini, apa yang dicerap oleh manusia tak hanya apa yang ada di sekitar saja –sekolah, rumah, kafe, dsb-, namun lebih dari itu, manusia juga banyak mencerap dari benda-benda komponen digital-maya –seperti internet, televisi, radio, dll-. Kompleksnya kondisi obyektif materiil yang ada di sekitar subyek ini, berimbas pada kekuatannya dalam mempengaruhi struktur kesadaran –atau bahkan hingga aras alam bawah sadar- subyek itu sendiri. Beranjak dari sini, maka kesadaran subyek sesungguhnya dideterminasi oleh struktur materiil di sekelilingnya.

Begitu pun olah cipta, karya, dan rasa yang direproduksi oleh si subyek dalam kehidupan sehari-hari, ia tak semata-mata murni berasal dari olah pikir dinamika kesadaran dan alam bawah sadar, namun dibaliknya, telah terjadi proses dialektika antara kesadaran dan kondisi materiil di sekelilingnya. Sehingga  naif sekali bila ada sebuah produk olah cipta, karya dan rasa yang mengklaim dirinya sebagai sesuatu yang otonom –yang murni dari konstelasi kesadaran an sich-.

Salah satu contoh sederhana yang akan saya bahas disini, adalah karya seni musik. Semenjak era pra-sejarah, musik dipandang sebagai sebuah kebutuhan tersendiri bagi manusia. Saya berpandangan, jikalau mulanya musik hadir merupakan bentuk dari proses kreatif dan imajinatif manusia dalam menggambarkan dan menyuarakan suasana batin. Terutama dalam ritus-ritus keagamaan, musik juga banyak dipakai sebagai media penyempurna komunikasi antara hamba dan Tuhannya. Ritus-ritus keagamaan seperti ini pada umumnya memerlukan suasana kondusif dan tenang dalam mengkondisikan hubungan vertikal hamba dan Tuhannya, yang karenanya musik dipilih sebagai salah satu media yang memungkinkan kondisi tersebut terciptakan.

Sebagai salah satu elemen kebudayaan yang cukup tua, dalam perjalanan sejarah, musik kemudian mengalami komodifikasi yang sedemikian hebatnya. Tercatat setidaknya di berbagai titik belahan pusat kebudayaan di dunia, musik kemudian hadir tak hanya sebagai pelengkap ritus keagamaan, ia juga hadir sebagai sarana hiburan –mulai dari acara-acara aristokrasi kerajaan, pesta rakyat, hingga petani yang sedang iseng meniupkan suling sembari menunggu kerbaunya memakan rumput.

Adalah era Renaissance hingga Revolusi Industri di Eropa yang merubah wajah dunia musik: dari yang watak awalnya adalah musik sebagai budaya privat, kemudian menjadi budaya massa. Musik hadir dalam bentuknya yang lebih menggemaskan sekaligus mewah. Ia terpampang dalam opera-opera besar bule borjuis Eropa. Sekolah-sekolah musik kian menjadi ramai. Dan di kemudian hari, kita mendengar nama-nama komposer musik ternama seperti Johann Sebastian Bach, Wolfgang Amadeus Mozart, Ludwig van Beethoven, Frédéric Chopin, hingga Scott Joplin yang handal bermain piano ragtime.

Hingga memasuki abad 20, jangkauan musik semakin luas. Ia bahkan bisa dimasukkan dalam media perantara seperti radio, hingga kaset tape. Abad 20-lah yang kemudian mewujudkan cita-cita musik agar semakin luas dan sampai di seluruh telinga umat manusia dengan berjamurnya industri rekaman musik. Walhasil, dengan bermodalkan sebongkah iPod dan earphone, kita masih bisa mendengarkan musik sembari buang air besar di jamban pinggir sungai.

Tegangan Estetika Sebagai Kunci

Sebagaimana yang sudah disebutkan diatas, musik sebagai salah satu elemen kebudayaan, ia juga hadir sebagai media afeksi manusia. Ia hadir dalam bentuk yang sedemikian uniknya, yang ditangkap oleh indra rungu dan dicerap ke dalam batin manusia. Pencerapan ke dalam batin manusia inilah yang kemudian seringkali menciptakan nuansa-nuansa tegangan yang terbedakan dari yang lainnya. Inilah yang kemudian kita kenal sebagai “Tegangan Estetika”.

Dalam proses penciptaan produk seni, tegangan estetika sebagaimana yang disebutkan oleh A. Teeuw, selalu hadir dalam bentuknya yang bertarik ulur antara konvensi dan kreasi. Di satu sisi, sebuah karya seni selalu dikondisikan oleh bentuk-pakem tertentu yang sudah ada. Dalam industri musik misalnya, musik dihadirkan dalam bentuk-konvensi yang sudah dan sedang ngetren –untuk memenuhi tuntutan pasar, kesesuaian tren harmoni nada, dll.-. Kemudian untuk meningkatkan potensi diferensiasi dengan karya seni musik lainnya, maka proses kreasi mau tak mau mesti selalu dikondisikan sebagai sebuah progress tak terhingga. Sehingga, antara suatu produk musik dengan produk musik lainnya memiliki titik-dimensi perbedaan yang memiliki ciri khasnya masing-masing, dan ia bisa menjadi seolah terbaharukan.

Bagi khalayak awam, persepsi atas tegangan estetika terkadang dianggap suatu hal kecil dalam sebuah produk seni musik. “Yang penting nadanya akrab dan enak di telinga, dan liriknya mudah dicerna” begitu kira pikirnya khalayak awam. Atau anggapan dari kaum ultra kekiri-kirian, tegangan estetika yang terlalu berjubel segera dicap sebagai bentuk okupasi kaum borjuis di ranah kesenian.

Terlepas dari hal tersebut, saya lebih memandang bahwa seni memang mesti diletakkan terlebih dahulu pada formasi tegangan. Formasi tegangan ini pada dasarnya dapat memformasikan dimensi afektif pada diri si komunikan. Baru-lah pada dimensi kognitif si komunikan, sebuah karya seni mesti menempatkan dirinya pada citraan dan pesan tertentu.

Citraan dan pesan tertentu ini, di kemudian hari semenjak abad 18-an hingga sekarang terus menjadi lahan perdebatan. Perdebatan tersebut berkisar pada substansi citraan, yang dimana di Indonesia pada 1960-an kita mengenal ada perdebatan ideologis soal karya seni: apakah seni harus mengandung dimensi emansipatoris kerakyatan, atau biarkanlah seni berbicara mengenai dirinya sendiri –seni untuk seni-.

Terlepas dari perdebatan ideologis tersebut, saya sendiri lebih percaya bahwa sebuah karya seni di satu sisi harus jujur. Ia mesti mengandaikan pengalaman subjektif dan empiris dari si empu karya seni. Namun di satu sisi yang lain juga, mesti ada semangat-kredo moral yang menjamin sisi kebergunaannya karya seni bagi masyarakat kebanyakan. Karya seni inilah yang kemudian dapat menggugah jiwa kolektif masyarakat, untuk kembali menyadari hakikat keberadaannya sebagai manusia sekaligus sebagai masyarakat.

Oke, cukup dulu ea. Nanti akan saya lanjutkan lagi obrolan soal karya seni, musik, dan bla bla bla-nya di lain waktu. []

Radio 03.00

aha.png

Tepat pukul 03.00, aku melihat diriku berpakaian jas untuk kemudian menarik dasi dari kerahku. Seorang androgini hanya berdiri diam di pelataran: “hey, berdo’alah kamu”, pria tua itu menimpali. Ya, kota kami diliputi oleh mitos besar atas kecemasan.

Untuk itu, radio-radio terus memutarkan dirinya sendiri. Dari sudut yang sama, untuk kembali ke sudut yang sama. Dari 80.00 menuju 110.00. Sepanjang hari, radio itu terus menancapkan dirinya pada pikiran kami.

Sampai akhirnya, kamera menyadarkan kami untuk tetap tenang. Bagi kami, kamera adalah proyeksi masa lalu dan masa depan yang patut diharapkan. Kamera-lah yang menyampaikan identitas diri kita. O santai saja kawan, saya sudah menyiapkan peluru di tiap pistol yang saya pegang. Hanya untuk melemparkannya, menembus dan melampaui otak yang kami punya.

Sejak itu, kami hanya berhadapan satu per-satu: menatap mata dingin masing-masing. Itu terjadi pada 03.10, saat pagi menuju puncak bisunya.

Rasyid Ridha Saragih

-Semarang, Januari 2016

Jejak Menuju Sore

Untitled

Tersayup angin menghempas menduduki lengannya yang menjadi saksi bisu hidup

Sebagai angan akan Pocut Baren, tak mestilah anggur mendahului ludah tlusuri tenggorokannya

Widuri semenjak dahulu kala menularkan langgamnya yang kian memadat

Dibalut aroma mentah nan tajam menusuk panca indera hingga dicerap kalbu

.

Hidup sudah selalu datangnya benang menuju lubang jarum:

Malah lebih elok datang turun hujan yang basah dan badai yang kering

Pernahlah didengar Silampukau mendengar Metallica berujar kalau “Nothing else matters”

Namun di penghujung nanti, tiap teror makin menganga, mewujudkan kasihnya yang berbelas asa

Labirin yang berkelok kusam runyam curam seram padam legam

.

Deru ramai semesta seling mengkirut yang murung semrawut

Dalam nada-nada tawanya, tertancap bisik-bisik halus kegetiran

Mewujud dalam dua bayang-bayang

Dalam mimik kasihannya tersimpan raut tawa meruak

.

Pun mestinya kita masih ingat atas dentingan keroncong tua itu,

Diselingi tone dengung “Gambang Semarang” yang mengagetkan

Jangan hanya karena Paris membuat kita menyombongkan

Meskipun liak-liuknya bagai hasrat tanpa jurang yang tak ragu diucapkan Lacan

.

Tiap detik, tiap menit, tiap jam, tiap hari, tiap bulan, tiap tahun, dan tiap lainnya

Kelilingilah para kafilah kembara dengan sumpah serapah

Dalam kelahiran dan kematian, puan dan tuan, tak lelah bosan merayakan

Dibaliknya selalu hadir selubung ketakutan:

:Tiap tahun, obituari itu terus menulis tubuhnya sendiri, mencecar jejak-jejak sunyi []

.

Rasyid Ridha Saragih

Ndaleman Mulawarman-Banyumanik, 23 November 2015 

Konsepsi Gerakan Berkemajuan: Menimbang Relevansinya untuk Proyek Politiko-Intelektual Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

logo_milad_51IMM_edit_download

Oleh: M. Rasyid Ridha Saragih*

Dalam waktu yang akan mendatang, Warga Muhammadiyah akan menghelat perayaan akbar dan juga suksesi kepemimpinan di PP Muhammadiyah dengan diadakannya Muktamar Muhammadiyah ke 47 di Kota Makassar. Suksesi kepemimpinan ini tidak hanya berbicara permasalahan penggantian struktur pengurus organisasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, namun juga membahas bagaimana arah gerak Muhammadiyah di masa yang akan mendatang.

Ada banyak harapan yang dibebankan pada acara Muktamar Muhammadiyah ke 47 ini, baik di bidang pemberdayaan ekonomi sosial, pendidikan, hingga permasalahan politik-hukum. Inilah mengapa kemudian Muhammadiyah mengambil tema besar “Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan” sebagai tema Muktamar kali ini.

Apa yang menjadi tema besar Muktamar Muhammadiyah ke 47, merupakan salah satu frame Muhammadiyah sebagai gerakan. Muhammadiyah sebagai gerakan, sudah semestinya dapat menjadi pioneer dalam hal pemberdayaan masyarakat. Tidak hanya dalam persoalan pengadaan infrastruktur seperti kampus, panti asuhan, rumah sakit, mesjid, dan sebagainya, pencerahan harus selalu diartikan secara luas: yakni bagaimana mengkondisikan kebudayaan masyarakat menjadi maju.

Continue reading “Konsepsi Gerakan Berkemajuan: Menimbang Relevansinya untuk Proyek Politiko-Intelektual Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah”